Judul : Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia
Penulis : Luigi Pralangga
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan : I, November 2011
Tebal : 332 Halaman
Peresensi: Abdul Kholiq
Pasca berakhirnya perang dingin, konstelasi hubungan antar negara beranjak masuk pada tatanan dunia baru. Dunia tidak lagi didominasi oleh hiruk-pikuk pertentangan ideologi antara barat dan timur, melainkan oleh isu-isu domestik yang sebelumnya memang telah ada seperti pembangunan ekonomi, kerjasama, bahkan konflik dan perang.
Situasi yang sama juga tampak di kawasan Afrika, khususnya Afrika Barat, yang merupakan salah satu kawasan yang dihuni oleh masyarakat dengan potensi perbedaan keanekaragaman suku, bahasa, agama, dan kebudayaan yang sangat besar. Selama beberapa dekade terakhir benua Afrika terus menerus dililit persoalan kemiskinan, kelaparan, perang dan berbagai persoalan lainnya.
Yang membedakan Afrika Barat dengan kawasan lainnya adalah tingginya tingkat konflik domestik yang terjadi di dalam Negara (intrastate), sehingga keamanan di kawasan ini terus menerus berada dalam kondisi yang tidak stabil. Menurut hasil penelitian Ted Robert Gurr (1993), sepuluh dari enam belas Negara di kawasan Afrika Barat mengalami persoalan konflik internal sejak periode 1980-an. Karakteristik dari konflik internal ini umumnya terjadi antara kelompok dalam masyarakat (communal contender), kelompok suku (ethnoclass), konflik dengan penduduk lokal (indegeneous people), atau kelompok separatis etnonasionalis.
Sketsa kehidupan masyarakat Liberia dan suka duka dalam tugas pemulihan perdamaian dari konflik yang terjadi di Liberia, yang memicu munculnya konflik internal di Sierra Leone, itulah yang hendak dihadirkan Luigi Pralangga lewat memoar Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia ini.
Petualangan Luigi sebagai peacekeeper PBB berawal ketika ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan multinasional bidang telekomunikasi dan berhijrah ke New York. Di sanalah, semua kisah dimulai. Menjadi OB hingga pesuruh keluarga untuk membeli sayur pun pernah dijalani pria kelahiran Jakarta, 29 April 1974 ini dengan setia.
Hingga pada suatu ketika, akibat “pergaulan bebas”-nya di New York, Luigi ditawari untuk bekerja di UN (United Nation). Sejak dikirim ke daerah konflik di Baghdad, Luigi kemudian tergerak untuk bergabung dengan tim misi perdamaian PBB. Pada 11 Februari 2003, Luigi diterbangkan ke Irak untuk bergabung dalam misi inspeksi Senjata Pemusnah Masal bersama pasukan UNMOVIC.
Serangkaian manuver karier yang telah dilalui Luigi sejak bergabung di PBB lantas memantapkan ondel-ondel kampret jebolan Teknik Sipil ISTN ini untuk bergabung menjadi field service staff di bawah naungan UN-DPKO. Akhirnya, Luigi pun ‘terdampar’ di Liberia, sebuah negara kecil di wilayah Afrika Barat yang baru saja lepas dari periode kelam akibat perang saudara, bergabung bersama United Nations Mission in Liberia (UNMIL).
Di sela kesibukannya di dunia peacekeeping dan humanitarian activities itulah Luigi sempat menangkap kegetiran yang dialami oleh masyarakat Monrovia. Di sana, sebagian besar anak-anak tumbuh tanpa memiliki akta kelahiran. Di tempat lain tampak anak-anak berusia 15 tahunan sudah harus menggendong bayi mereka sendiri, tanpa diketahui siapa dan di mana bapaknya. Sekelumit realitas itu menjadi santapan Luigi dan rekan-rekannya sehari-hari sebagai penjaga perdamaian PBB. Realitas yang merupakan imbas dari konflik yang mendera selama lebih dari 14 tahun.
Sejatinya, konflik memang tidak akan pernah bisa diatasi karena ia telah menjadi bagian yang inheren di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Keinginan yang tidak terpenuhi, perbedaan pandangan, ucapan, dan perbuatan biasanya menjadi penyebabnya. Perang saudara yang terjadi di Liberia bisa jadi dilatarbelakangi oleh hal serupa.
Melalui proses berbagi pengalaman dan beberapa imaji dari lapangan penugasan yang terangkum dalam buku ini, paling tidak ada dua pola-pikir yang hendak dipancar-teruskan oleh Luigi. Pertama,bagaimanapun, tugas menjaga perdamaian (peacekeeping) adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya tugas mereka yang berseragam dan bersenjata. Masing-masing dari kita mempunyai “a shared responsibility” untuk bisa memberikan sumbangsih, baik kepada lingkungan setempat di mana kita berada maupun dalam cakupan yang lebih luas.
Kedua, bahwa di luar sana begitu banyak orang yang jauh lebih menderita dari kita. Di luar sana, ada kondisi yang tanpa sepengetahuan kita justru jauh lebih buruk ketimbang kondisi kondisi kita yang saban hari kita kutuk dan caci-maki ini. Lepas dari serangkaian konflik berlabel SARA yang masih marak terjadi, kita patut untuk bersyukur. Atau paling tidak, muncul kesadaran dalam hati kita masing-masing, bahwa kita mesti bersyukur masih hidup di negeri ini.
Luigi Pralangga, dan para peacekeeper lain yang berasal dari Indonesia, ibarat trim-tab. Satu fungsi penting dalam menavigasi kapal berbobot besar yang berada di ujung sirip kendali. Tanpa fungsi ini, kapal akan sulit untuk dikendalikan. Dalam dunia nyata, kapal berbobot ini adalah keikutsertaan serta wujud kontribusi Indonesia, yang oleh banyak negara didaulat sebagai “truly a child” dari PBB, di dalam usaha perdamaian dunia dan kemanusiaan. Sementara usaha-usaha yang dilakukan orang macam Luigi-lah yang memungkinkan hal itu terjadi.
Alhasil, buku ini merupakan cara yang indah untuk menyebarkan nilai-nilai kedamaian kepada dunia. Membaca kelakar Luigi yang dihiasi dengan ilustrasi foto humanis di dalamnya membuat saya merenungkan hidup saya, di lain waktu terkekeh, dan di kesempatan lain lagi mensyukuri apa yang masih saya dan negeri ini miliki. Beristirahat sejenak, merenung, dan bersyukur atas karunia yang banyak di Indonesia kita tercinta ini.

0 komentar:
Posting Komentar