resensi terbaru, pengertian resensi, contoh resensi, resensi novel, resensi buku, resensi cerpen, resensi laskar pelangi, arti resensi, resensi film

Selasa, 17 Januari 2012

Review Taj Mahal #1


Trilogi Taj Mahal #1: Mehrunnisa The Twentieth Wife 
Tebal : 556 halaman
Oleh :  Indu Sundaresan
Penerbit : Qanita (Mizan Group)
ISBN-13 :    9786028579568
Harga : Rp. 78.000
Peresensi: Yenny Tisnasenjaya

Saat pertama membaca buku ini, pasti akan terlintas dalam pikiran kalau buku ini akan terasa membosankan. Karena buku ini dilatarbelakangi oleh sejarah berdirinya Taj Mahal di India. Bisa dipastikan kalau yang suka sejarah tidak akan terasa kalau ini bacaan berat. Selain bahasa yang dipakai mudah dimengerti terjemahannyapun sudah bagus. 


Setelah membaca dengan hati terbuka dan memang pada dasarnya aku senang novel dengan latar belakang sejarah, tak terasa cerita ini mengalir begitu saja.


Buku pertama ini mengisahkan tentang Mehrunisa, anak dari seorang wazir dari kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Akbar, bernama Ghias Beg. Dia merupakan perantauan dari Persia. Ayah Mehrunisa keturunan bangsawan Persia yang melarikan diri ke India karena dikejar-kejar oleh pasukan dari kesultanan Persia. Saat perjalanan menuju India inilah Mehrunisa dilahirkan di tengah padang pasir di mana waktu itu sedang terjadi angin badai. Saat itu keadaan keluarga Mehrunisa sedang buruk-buruknya, pakaian compang-camping, tidak ada uang sama sekali, tidak ada makanan. Akhirnya Mehrunisa lahir dengan selamat dengan mata birunya yang memukau. Tadinya Mehrunisa akan diserahkan kepada sang penolong keluarganya yang bernama Masud. Tapi karena sang penolong ini mengenali kain pembungkusnya maka dia tidak jadi diserahkan dan Mehrunisa tetap dibesarkan dan oleh orang tuanya sendiri.
Tumbuh dan besar di India bersama dengan saudara-saudaranya menjadikan Mehrunisa seorang anak yang pintar dan berbakat. Karena ayahnya bekerja untuk Kesultanan Hindustan maka oleh Sultan Mughal, Sultan Akbar berbagai fasilitas sebagai pekerja untuk kesultanan Hindustan.


Di India sultan diperkenankan untuk memiliki banyak istri dan selir. Maka dibangunlah zenana yaitu harem untuk tempat tinggal para ratu, istri, dan selir.
Pada usia delapan tahun Mehrunisa diajak oleh ibunya ke zenana kesultanan melihat upacara pernikahan Pangeran Salim. Di sanalah untuk pertama kalinya Mehrunisa melihat Pangeran Salim dan jatuh cinta padanya.
Saat itu pula Ruqhaya, permaisuri Sultan Akbar melihat Mehrunisa dan sejak saat itu pula Ruqhaya sering memanggil Mehrunisa ke zenana untuk mengasuh cucunya yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri yakni Kuhram.


Khurram adalah anak ketiga dari pasangan Pangeran Salim dan Jagat Gosini. Tapi Khurram diambil oleh Sultan Akbar dan Ruqayya Sultan Begam dan Jagat Gosini hanya bisa sekali-kali mengunjungi anaknya sendiri ke zenana Ruqayya. Dan saat itu Jagat Gosini tahu kalau Mehrunisa-lah yang mengurus Khurram, anaknya, dan Mehrunisa begitu dipercaya oleh Ruqayya. Timbullah perasaan tidak sukanya pada Mehrunisa. Dia menyuruh Hoshiyar Khan, kasimnya untuk terus mengawasi dan memantau Mehrunisa.


Suatu saat Mehrunisa melihat Pangeran Salim sedang memberi makan burung merpati yang merupakan burung kesukaan Pangeran Salim di taman zenana. Di sana pula mereka untuk pertama kali bertemu secara langsung dan Pangeran Salim langsung jatuh cinta padanya. Terpukau melihat mata biru Mehrunisa. Mehrunisa sendiri berharap dia bisa menjadi bagian dari hidup Pangeran Salim. Hoshiyar sang kasim yang ada di sana mengawali Pangeran Salim melihat semua itu dan melaporkannya kepada Jagat Gosini. Gosini semakin geram mendengar kisah ini. Dia bertekat untuk menjodohkan Mehrunisa dengan pria lain. 


Dan secara kebetulan Sultan Akbar menjodohkan Mehrunisa dengan Ali Quli yang juga perantauan dari Persia, Ali Quli adalah seorang prajurit dengan latar belakang yang berbeda dengan Mehrunisa. Karena ini adalah perintah Sultan Akbar, Ghias Beg tidak bisa menolaknya. Akhirnya pernikahan Mehrunisa dan Ali Quli pun terlaksana. Jhagat Gosini merasa lega Mehrunisa menikah dengan pria lain yang bukan suaminya. Gosini merasakan seandainya Mehrunisa menjadi selir di harem Pangeran Salim, maka semua perhatian Pangeran akan tersedot pada Mehrunisa.


Mehrunisa diboyong dan dibawa pergi ke kota lain. Ali Quli bukanlah suami yang baik. Dia berselingkuh dengan wanita lain. Mehrunisa sendiri beberapa kali selalu keguguran dia berusaha agar dia bisa hamil dan memberikan Ali Quli keturunan. Pada akhirnya Mehrunisa berhasil melahirkan seorang anak perempuan bernama. Ladli. Ali Quli kecewa karena Mehrunisa tidak bisa memberikan seorang anak lelaki kepadanya.


Selama menikah dengan Ali Quli, Mehrunisa tidak pernah melupakan Pangeran Salim dari benaknya. Dia selalu membayangkan seandainya dia bisa menjadi selir Pangeran Salim, tentunya hidupnya akan berbeda, dia akan lebih bahagia. Ternyata keinginan Mehrunisa didengar oleh Tuhan. Ali Quli berkhianat dia membantu Pangeran Khusrau berniat merebut kekuasaan dari ayahnya yakni Pangeran Salim yang telah naik takhta menjadi Sultan Mughal, dengan gelarnya Jahangir.

Ali Quli mati dibunuh hingga ususnya terburai oleh pasukan Jahangir di depan Mehrunisa.

Apakah dengan terbunuhnya Ali Quli, Mehrunisa bisa kembali ke ibukota kesultanan dan bisa bertemu kembali dengan Jahangir yang merupakan cinta pertamanya? Bertemu kembali dengan keluarganya setelah berpisah sekian lama?


Untuk mengetahui jawabannya, semua ada di dalam buku Trilogi Taj Mahal #1: Mehrunnisa The Twentieth Wife. Buku ini akan memberikan jawaban, apakah pada akhirnya Mehrunisa bisa bersatu dengan Jahangir setelah sekian puluh tahun berpisah? Apakah ada intrik-intrik di harem setelah kedatangan Mehrunisa ke ibukota yang membuat Jagat Gosini gelisah dan menderita? Buku ini layak dibaca dan menjadi rekomen tepat untuk mengetahui sejarah awal berdirinya Taj Mahal yang menjadi simbol cinta sejati Sultan India untuk istri tercintanya...


Selamat membaca...

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Tentang Modem Bolt, Klik Follow pada Gambar Berikut:

Resensi Buku Terbaru
Tags :

Related : Review Taj Mahal #1

0 komentar:

Posting Komentar