resensi terbaru, pengertian resensi, contoh resensi, resensi novel, resensi buku, resensi cerpen, resensi laskar pelangi, arti resensi, resensi film

Rabu, 01 Februari 2012

Para Perempuan Perkasa


Dilansir dari Jawa Pos, 17 Juli 2011

Judul BukuTrilogi Taj Mahal
Penulis: Indu Sundaresan
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Mei 2011
Peresensi : Hilyatul Auliya

Inikah kekuatan cinta ? Ia tak mengenal status sosial yang terbentang. Tak perduli perbedaan jarak usia yang terentang. Ia mampu merubah situasi pilu menjelma menjadi karya monumental, yang tetap dikenang meski jasad telah hancur menjadi debu.



Cinta membuat manusia bak terpengaruh candu, apapun yang terjadi ngotot agar mendapatkan yang diinginkan. Sehingga tidak mengherankan jika para pujangga bersabda bahwa cinta membuat manusia buta. Cinta memang bisa membuat airmata terurai atau dunia menjadi indah, tapi tak jarang pula mencipta sejarah menjadi banjir darah bila dipahami dengan cara yang salah. 


Itulah kesan yang didapatkan sekaligus perasaan apresiatif atas seri buku Trilogi Taj Mahal. Kisah karya Indu Sundaresan, penulis kelahiran India ini menceritakan kisah para perempuan perkasa dalam dinasti Mughal India. Hingga kemudian, eksistensi mereka begitu terasa dengan berdirinya sebuah prasasti cinta nan fenomenal dan tercatat dalam lembaran sejarah yang masyhur, sebuah bangunan yang kokoh hingga kini; Taj Mahal.

Sebagai sebuah trilogi, Taj Mahal memang berseri. Buku pertama berjudul Mehrunnisa;The Twentieth Wife, menceritakan masa muda tokoh utamanya bernama Mehrunnisa. Di awali ketika perempuan cantik bermata biru dan berdarah Persia ini masih berada dalam kandungan Ibundanya, Asmat. Ayahnya bernama Ghias Beg, putera Muhammad Sharif mantan pejabat istana dari Shah Tahmasp Safavi di Persia.

Namun, pergantian rezim di Persia merubah nasib keluarga bangsawan ini. Ghias jatuh miskin dan terlilit hutang banyak, pilihannya selain melarikan diri adalah; masuk penjara atau dihukum mati. Maka, bersama isteri tercintanya yang tengah hamil tua, Ghias membawa serta anak-anaknya; Muhammad Sharif, Abul Hasan dan Saliha mengungsi ke India, tanah yang ternyata membawa perubahan nasib bagi keluarganya.

Kisah berlanjut hingga Mehrunnisa beranjak dewasa dan saling jatuh cinta dengan Jahangir, pangeran Mughal. Sayang, pertemuan keduanya terlambat mengingat Mehrunnisa telah dijodohkan oleh Sultan Akbar dengan seorang panglima tentara Mughal berdarah Persia bernama Ali Quli. Meski Jahangir merupakan putra mahkota, namun ia tak kuasa merubah keputusan ayahandanya. Maka, meski saling mencinta, Mehrunnisa dan Jahangir tidak bisa bersama.


Buku kedua berjudul Nur Jahan; the Queen of Mughal, menceritakan sosok Mehrunnisa yang telah matang sebagai seorang perempuan yang cerdas. Setelah bercerai Ali Quli, Ia kemudian menikah lagi dengan pujaan hatinya yang telah menjadi Sultan Mughal; Jahangir. Setelah 17 tahun memendam geloran cinta yang tak kunjung padam, keduanya akhirnya menikah dan Mehrunnisa resmi menjadi istri ke duapuluh sang Sultan. Meski demikian, berbeda dengan pernikahan Sultan sebelumnya, pernikahan ini benar-benar berdasarkan cinta, tidak dicampuri oleh motif politik.


Maka dimulailah kehidupan Mehrunnisa sebagai seorang Istri Sultan. Intrik politik yang melibatkan para penghuni Harem pun semakin menarik. Ketulusan sang Sultan menikahi Mehrunnisa tentu saja menimbulkan rasa cemburu pada banyak pihak, terutama ratu Jagat Gosini. Sebagai Padshah Begam, Ratu Kerajaan, posisinya terancam dengan kehadiran Mehrunnisa yang seolah menyihir hati Sultan. Maka, persaingan para Istri Sultan pun mengemuka secara terbuka. Dan pemenangnya, dialah yang kemudian bergelar sebagai Nur Jahan, Sang Cahaya Dunia.


Perlahan tapi pasti, kerajaan Mughal berada dalam genggaman Nur Jahan. Meskipun secara de jureJahangir adalah sultan, namun secara de facto semuanya mafhum, bahwa Nur Jahan-lah yang berkuas atas kerajaan. Dalam buku kedua dari Trilogi Taj Mahal ini, kita akan disuguhi banyak fakta sejarah antara lain bahwa sebuah kerajaan (India), begitu penuh dengan lumuran darah, yang tragisnya sering tumpah akibat ulah saudara yang berebut takhta.


Dalam buku ketiga yang berjudul Jahanara; The Shadow Princess, bercerita pasca peralihan kekuasaan dari Jahangir ke Khuram yang kelak bergelar Shah Jahan. Setelah mangkatnya Jahangir, maka kekuasaan yang digenggam Nur Jahan pun runtuh seketika, dan posisinya sebagai perempuan perkasa dan berkuasa tergantikan oleh permaisuri sang Sultan, Arjumad Banu Begam yang bergelar Mumtaz Mahal. Pasangan ini kemudian memiliki tujuh orang anak; Jahanara, Dara Shikoh, Roshanara, Shah Shuja, Sultan Aurangzeb, Murad baksh, dan Goharara. Sayang, Mumtaz tidak berumur begitu panjang. Ia kemudian dimakamkan di Burhanpur.


Pasca kematian istri tercintanya, Shah Jahan dirundung duka secara hebat. Demi mengobati duka sang Sultan, Mahabat Khan, seorang panglima tentara Mughal melontarkan ide pembangunan Taj Mahal yang sebenarnya impian Nur Jahan. Maka dimulailah proyek ambisius tersebut. Sejarah mencatat, Konstruksi Taj Mahal membutuhkan waktu selama 20 tahun untuk diselesaikan, lebih dari 2000 pekerja, dan 1000 ekor gajah untuk mengangkut bahan material bangunan ini.


Pada saat kematian Mumtaz, Jahanara berusia tujuh belas tahun. Ia memikul tanggung jawab di zenana kesultanan, sebagai seorang anak perempuan yang disayangi sekaligus menjadi wanita terpenting di harem dan istana sepanjang usia sang ayah, Shah Jahan. Demi menjaga keluarganya, Jahanara harus memendam cintanya terhadap Najabat Khan. Jahanara juga harus menyaksikan, saudara laki-lakinya saling bunuh demi memperebutkan kekuasaan.


Membaca buku karya penulis berdarah India ini, ibarat menjelajah sebuah kisah cinta, pergolakan kekuasaan (politik) dan sejarah panjang sebuah peradaban secara sekaligus. Alur yang mengalir, membuat pembaca mampu menyusuri lorong-lorong sejarah yang panjang dan kelam dengan tanpa tekanan. Sundaresan, penulisnya, secara cerdas mampu memperlihatkan sosok-sosok perempuan perkasa dalam dunia patriarkhi kesultanan yang kaku.


Secara gamblang dapat terendus, bahwa buku ini ditulis berdasarkan hasil riset secara ketat. Meski demikian, bukan berarti buku ini hanya berbicara mengenai alur sejarah yang penuh tanda tanya, namun Sundarsan mampu meramu dengan imajinasinya yang kreatif, sehingga menjadikan buku ini sebuah karya yang sangat menarik untuk dibaca, ditambah dengan gaya tulisan yang mudah dicerna. Selamat membaca….               


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Tentang Modem Bolt, Klik Follow pada Gambar Berikut:

Resensi Buku Terbaru
Tags :

Related : Para Perempuan Perkasa

0 komentar:

Posting Komentar