resensi terbaru, pengertian resensi, contoh resensi, resensi novel, resensi buku, resensi cerpen, resensi laskar pelangi, arti resensi, resensi film

Kamis, 16 Februari 2012

Two Travel Tales

Judul: Two Travel Tales
Penulis: Ade Nastiti
Editor: Rahmadiyanti
Penerbit: Qanita
Cetak: Pertama, Desember 2011
Tebal: 336 hlm

Presensi: Sinta Nisfuanna




“Perkataan Swami Ananda Prakash tentang pencarian tadi kembali terngiang. Apa yang kucari? Dan Apa yang kutemukan?” [h.19]


Begitu mendengar/ membaca nama India, yang muncul di kepala saya adalah Delhi, Sungai Gangga, Taj Mahal, dan satu lagi yang tidak ketinggalan Bollywood. Saat kuliah, saya sering menjumpai mahasiswa pertukaran asal India yang mengenakan sari, untuk yang perempuan, dan kurta, bagi yang laki-laki. Terlihat sekali rasa bangga dan percaya diri terhadap bangsanya. Rasa percaya diri inilah yang sempat dipaparkan penulis dari pernyataan temannya, Pooja.



"penduduk kami sekarang sudah lebih dari 1 miliar dan akan terus bertambah, sementara resource kami tak berubah. Sejak lahir kami sudah harus bersaing dengan sangat ketat. Kami sadar, jika kami tumbuh biasa-biasa saja, kami hanya akan meneruskan tradisi kemiskinan keluarga" (hal. 200)



Maka tidak aneh jika kemudian saya bertemu dengan orang India yang begitu cerewet menanyakan ini itu. Benar-benar semangat belajar yang patut ditiru, sudah pasti dalam hal yang positif. Mengenal karakter dan psikologis penduduk inilah membuat buku ini semakin menarik untuk ditekuni.


Buku ini tidak menawarkan tips mendetail, rincian biaya, dan akomodasi saat melakukan perjalanan ke India & Nepal, seperti yang sekarang sedang marak ada di dalam buku-buku traveling. Namun, dari kisah perjalanan penulis, saya diajak untuk berempati dan mengenal kehidupan India & Nepal lewat obrolan dan canda Mbak Ade dengan masyarakat setempat. Tak hanya itu, Sepanjang membaca perjalanan penulis, saya mendapat suguhan deskripsi tempat-tempat yang dikunjunginya sekaligus pelajaran tentang banyak hal, seperti sejarah, kehidupan, budaya, tenggang rasa, dan ideologi.



“Perjalanan seperti ini selalu membuatku lebih menghargai hidup. Bagiku, tujuan perjalanan memang tidak semata melihat keindahan atau kemegahan, tapi menemukan hal-hal berbeda di luar sana dan belajar melihatnya dengan kacamata mereka.” [h.76]



Pengalaman penulis yang paling berkesan buatku adalah saat mengunjungi ke sekolah yang menjadi inspirasi film Three Idiots. Terbayang di kepala saya, sekolah alam yang benar-benar mengoptimalkan potensi alam dan anak-anak. Menciptakan daya listrik sendiri, menanam sayuran, memasak menu makanan, dan masih banyak aktivitas lain yang membuat saya sendiri ingin mampir ke sana.



Pengalaman penulis berkunjung ke rumah keluarga miskin dan membawakan bahan makanan bersama Yugo, Pooja, Shedeev dan perbincangan Arjit, sang penarik becak tangan, memperlihatkan bentuk kemiskinan akut yang juga melanda negeri India, dan menampakkan ketimpangan social yang cukup tinggi ketika dibandingkan dengan kisah penulis ketika mampir ke kota Gurgaon.



Walaupun Nepal tidak terlalu banyak dibahas, tapi eksotisme negeri di atas awan itu cukup terlihat lewat cerita dan foto-foto yang terlampir di sela-sela kisah. Tak luput dari sorotan, penulis juga menceritakan dua negeri yang sarat aura spiritual. Mulai dari bertemunya dia dengan titisan Sang Rama, mendatangi seminar antar agama, hingga kena tipu pendeta abal-abal, memperlihatkan keunikan ritual, keberagaman aliran agama, sekaligus ‘sisi negatif’ yang terselip dalam aktivitas keagamaan.



Kisah yang dituturkan penulis yang terasa sangat mengalir dan terasa seperti ‘mendongeng’ ini ditutup dengan manis. Bahwa di manapun kita berada, meski sangat jauuuuuh diujung bumi, tapi keluarga selalu menjadi muara kerinduan yang menggelayuti perjalanan kita. Nice!


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Tentang Modem Bolt, Klik Follow pada Gambar Berikut:

Resensi Buku Terbaru
Tags :

Related : Two Travel Tales

0 komentar:

Posting Komentar