Judul : Death In The Air; Kematian Di Udara
Penulis : Shane Peacock
Penerjemah : Maria Lubis
Penerbit : Qanita
Tahun Terbit : Januari 2012
Ketebalan : 352 halaman
ISBN : 978-602-9225-32-7
Harga : Rp. 57.000,-
Peresensi: Ady Ahmed
Sherlock Holmes kembali beraksi untuk menumpas kejahatan di kota London. Dalam buku kedua ini, Sherlock Holmes dihadapkan dengan pembunuhan atau lebih tepat dikatakan sebagai percobaan perbunuhan kepada Monsieur Mercure, seorang ahli sirkus Trapeze. Namun kali ini, Sherlock muda tidak dibantu oleh burung gagak lagi. Lalu siapa yang membantu detektif cilik berdarah Yahudi menyelesaikan kasus besar ini?
Holmes bersikeras dan berjanji untuk menumpas segala kejahatan sebagai dendam atas kematian ibunya yang terbunuh karena kasus pertamanya. Secara kebetulan, Holmes menyaksikan sendiri jatuhnya Monsieur Mercure dari ketinggian beberapa puluh meter ketika beraksi di dalam gedung Crystal Palace. Holmes melihat sesuatu yang janggal, seketika itu juga bergerak untuk menyelidikinya.
Ia terlebih dulu memecahkan masalah yang ada pada dirinya sendiri, bahwa ia harus tinggal sendirian dan harus segera mendapatkan uang untuk membayar sekolahnya. Maka ia bertemu dengan seorang apoteker, Sigerson Bell yang bersedia menampungnya dan memberinya upah beberapa shilling. Namun, nasib kehidupan Bell tak beda jauh dari Holmes. Bell pun kini tengah mengalami krisis ekonomi.
Ia harus bergerak sendirian menyelidiki kasus Mercure. Perseteruannya dengan Malefactor, semakin meruncing ketika Holmes meminta informasi dan Malefactor meminta Holmes merendahkan diri di hadapan wanita yang dikaguminya, Irene Doyle. Demi janji dihadapan nisan ibunya dan kehidupannya, ia rela melakukannya. Setidaknya untuk sementara waktu.
Selidik demi selidik, ternyata bukan hanya percobaan pembunuhan terhadap Monsieur Mercure saja, masih ada kasus lain yang terjadi di tempat dan waktu yang bersamaan yakni perampokan. Dimana kedua kasus ini saling berkaitan, dan Sherlock Holmes berusaha mencari bukti-bukti serta benang merah diantara kedua kasus tersebut.
Jawabannya sudah dapat ditebak, Holmes mampu memecahkannya. Namun kali ini dia harus berhadapan langsung dengan komplotan paling berbahaya di London yang tak segan-segan menghabisi musuh-musuhnya.
Bedanya daripada seri pertamanya, dalam novel ini Sherlock lebih cenderung bekerja sendirian (tanpa dibantu burung gagak lagi), seperti saat menginterogasi The Swallow, mengamati tempat-tempat persembunyian komplotan tersebut. Holmes mengandalkan ilmu deduksinya sekaligus mengandalkan kedalaman dan keluasan pikirannya dalam menganalisa kasus kali ini.
Tetapi tetap saja ia membutuhkan bantuan-bantuan dari orang lain seperti informasi dari raja berandal cilik Malefactor, ilmu bela diri Bellitsu dari Sigerson Bell. Hal tersebut memanglah alamiah, karena manusia pada dasarnya makhluk sosial dan Shane Peacock memang membuatnya sedemikian rupa.
Kemahiran Shane Peacock dalam memainkan kata-kata memancing adrenalin pembacanya, terutama dibagian saat Holmes, Inspektur Lestrade, Lestrade muda dan beberapa orang Bobbie mengejar komplotan membuat novel ini begitu menggugah pembaca untuk terus menikmati petualangan-petualangan masa kecil yang dilalui Holmes.
Bukan hanya itu, kehidupan masa kecil Holmes yang cukup kelam, mengingatkan kita betapa kerasnya perjuangan hidup. Terkadang kita juga merasakan dan mengalami ketidak-adilan dalam hidup. Kejamnya dunia kriminal dan kerasnya hidup di jalanan, semua sudah dirasakan oleh Homes muda.

0 komentar:
Posting Komentar