Menjelang pemilu 2014 ini, genderang politik telah ditabuh bertalu-talu. Perilaku politik partai-partai yang ada turut menghiasi hari-hari di Indonesia. Media massa baik cetak maupun elektronik selalu ramai memberitakan memanasnya arena perpolitikan Indonesia ini. Masing-masing partai mencitrakan diri dan berusaha mencari massa sebanyak-banyaknya. Begitu pula isu-isu perpolitikan, juga menjadi berita hangat. Bahkan, kasus-kasus hukum (korupsi) pun dikait-kaitkan sebagai perilaku politik pihak-pihak tertentu.
Burhanuddin Muhtadi menyoroti berbagai perilaku politik tersebut secara tajam dalam bukunya yang berjudul “Perang Bintang 2014; Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres”. Di waktu-waktu sekarang ini, agenda politik memang sudah berada pada titik yang hampir puncak—mengingat puncak politik terjadi pada 2014. Untuk menyambut dan mempersiapkan pemilu dan pilpres 2014, partai-partai politik mulai bermanuver dan berkampanye pada tahun 2013 ini. Oleh karenanya, masyarakat pun harus jeli melihat pergerakan politik tersebut untuk memilah dan memilih sikap pada 2014 mendatang.
Meski demikian, masyarakat pun banyak yang mengalami krisis kepercayaan karena banyak di antara partai-partai politik yang hanya berperilaku politis, tidak mampu melayani masyarakat. Begitu pula para kandidat yang muncul pada akhir-akhir ini, para “bintang lama” yang mengusung ide-ide lama sudah dipandang “membosankan” oleh masyarakat.
Pasalnya, kini muncul kandidat-kandidat baru dalam percaturan politik Indonesia. Mereka pun turut menghiasi taburan bintang-bintang politik periode ini. Para kandidat yang diprediksi bakal meramaikan pilihan calon presiden tersebut menjadi objek tersendiri dari para pengamat politik dan masyarakat awam. Mereka dipuji, tapi juga dibenci.
Siapa pun calon presiden (capres) yang sudah mendeklarasikan diri atau diam-diam berpotensi maju dalam pilpres 2014, harus siap dievaluasi dan ditelanjangi rekam jejak, kapasitas, dan integritasnya. Upaya mendiskusikan calon-calon presiden urgen dilakukan karena luasnya wilayah Indonesia dan besarnya proporsi pemilih yang kurang well-informed dengan politik. Jangan sampai pemilih memilih kucing dalam karung lagi (hlm. 16).
Namun, problematika pun muncul lagi karena untuk mendapatkan calon yang baik dan ideal itu bukan tergantung pada rakyat saja, tetapi juga ketersediaan kandidat atau calon yang diharapkan. Harapan akan lahirnya pemimpin bangsa dan negara atau presiden akan terjadi bila supply-sidedari partai-partai politik juga membaik. Hal itu dikarenakan setiap calon yang kuat secara politik adalah calon yang dinaungi oleh partai politik, bukan independent.
Krisis Kepercayaan
Jika para kandidat tidak memiliki integritas sebagai pemimpin, maka rakyat juga akan kebingungan memilih para capres tersebut. Akan tetapi jika ketersediaan para kandidat yang ada adalah para capres yang berkualitas dan berintegritas, tentunya rakyat akan memilih sesuai dengan nuraninya. Oleh karena itu, partai-partai politik sebagai sumber rekrutmen dan produsen capres harus menyediakan para kandidat yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Tetapi, masalah pun muncul lagi mengingat rakyat kini mengalami krisis kepercayaan kepada partai-partai politik yang secara otomatis juga melahirkan krisis kepercayaan kepada para kandidat yang diajukan oleh partai-partai politik tersebut. Hal ini menjadi fenomena tersendiri dan hanya akan memunculkan angka golput yang tinggi. Apalagi, akhir-akhir ini muncul gejala emoh partai atau yang lazim disebut deparpolisasi.
Pilpres 2014 adalah etape krusial dalam tahapan proses demokratisasi di Indonesia. Tahun 2014 merupakan grand finalbagi para elite politik kawakan untuk bisa memperebutkan kursi singgasana orang nomor satu di republik ini.
Bagi yang sudah di atas 60-an tahun atau bahkan akan menginjak kepala tujuh, 2014 adalah momentum atau kesempatan terakhir untuk mengadu nasib. Sementara pada saat yang sama, elite-elite muda atau yang belum pernah ikut berkompetisi politik menjadikan pilpres 2014 sebagai sarana mengukur kekuatan elektoral mereka setelah sekian lama bersembunyi di balik bayang-bayang elite tua (hlm. 36).
Perhelatan pilpres 2014 akan diwarnai ketidakpastian tinggi. Sejauh ini tak ada calon presiden yang dominan seperti SBY pada pilpres 2009. Pada saat itu, elektabilitas SBY jelang 2009 terlalu jauh untuk dikejar calon presiden yang lain. Namun, saat ini tidak ada calon presiden mana pun yang memiliki comparative advantage yang signifikan (hlm. 327).
Dengan demikian, perang bintang tersebut akan menjadi lebih sengit daripada periode sebelumnya, yakni pilpres 2009. Politik akan semakin panas dan rentan dengan adanya ledakan bara api politik yang panas tersebut. Untuk itu, masyarakat yang menjadi pihak pemilih harus bijak dalam menentukan pilihannya di tahun 2014 mendatang.
Buku yang berjudul “Perang Bintang 2014; Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres” ini mengajak para pembaca untuk lebih “melek” terhadap dunia perpolitikan di Indonesia yang semakin menegangkan. Bukan karena suatu alasan tertentu, melainkan rakyat yang menjadi pemilih adalah pihak yang menentukan bintang mana yang akan menjadi pemimpin mereka. Jika mereka salah memilih bintang, maka semua risiko juga dibebankan kepada mereka. Untuk itu, pemilih harus pandai dan bijak dalam memandang perang bintang ini. (Supriyadi-92 | Resensi di Koran Suara Merdeka edisi Minggu 31 Maret 2013)
Judul Buku : Perang Bintang 2014; Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres
Penulis : Burhanuddin Muhtadi
Penerbit : Noura Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2013
Tebal : xvi + 342 halaman

0 komentar:
Posting Komentar