resensi terbaru, pengertian resensi, contoh resensi, resensi novel, resensi buku, resensi cerpen, resensi laskar pelangi, arti resensi, resensi film

Senin, 18 Maret 2013

Membaca Wajah Asli Indonesia




“Indonesia Jungkir Balik” adalah buku buah tangan dari 10 penulis yang berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Laiknya judul, buku ini memuat dua bagian halaman yang saling terbalik. Pembaca wajib membalik posisi buku jika hendak membaca bagian yang lain. Melalui buku ini Adhitya Mulya, dkk menguras habis 'kehormatan' Indonesia dengan gaya tutur yang sederhana dan khas.
Indonesia, seperti kata M. Deden Ridwan dalam pengantar, adalah negeri yang penuh paradoks. Tiap hari kita dijejali surat kabar yang berisi kabar negatif. Mulai dari korupsi, pendidikan yang sakit, pemimpin yang egois sampai masyarakat yang menunjukkan watak jahiliyyah.
Membahas permasalahan korupsi, Adhitya Mulya mempertanyakan religiusitas manusia Indonesia. Bangsa yang beragama seperti Indonesia justru menjadi negara dengan peringkat ke-100 dari 182 negara yang bersih dari korupsi. Sementara Swedia, negara yang 23% penduduknya adalah ateis, berada di tingkat ketiga (Hal. 36 bagian 1).
Membaca halaman 11 di bagian 1 “Hidup Kok Serba Salah?”, pembaca akan disuguhkan bagaimana kesulitan seorang Beby Haryanti Dewi hidup di Indonesia. Ia harus super waspada terhadap penumpang laki-laki yang hobi menggoda perempuan saat naik bus. Bukan hanya itu, pun soal makanan ia juga harus pandai memilah menu yang bebas dari bahan pengawet, formalin, boraks.
Belum lagi masalah pendidikan Indonesia, Beby berpendapat bahwa pendidikan dasar di Indonesia terlalu “menyiksa” anak didik dengan belasan mata pelajaran. Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan pendidikan anaknya yang dia rasakan sewaktu hidup di luar negeri. Bahkan untuk masuk sekolah dasar saja tidak dituntut untuk bisa membaca dan menulis seperti yang berlaku di Indonesia (Hal. 24 bagian 1). Namun kualitas pendidikannya masih berada di atas Indonesia.
Selanjutnya dalam “Aturan, Tahu Aturan, Taat Aturan” Boim Lebon begitu menyayangkan sikap masyarakat yang tidak mengindahkan peraturan pemerintah. Misalnya, untuk mencegah kemacetan, pemerintah membuat program Three in One, yakni tiga orang dalam satu mobil (Hal. 51 bagian 1). Tapi bukan Indonesia namanya jika masyarakatnya tidak “cerdas”. Peraturan ini justru dengan mudah dipatahkan oleh joki-joki jalanan.
Boim juga menghimbau agar pemerintah lebih peka. Setiap ingin membuat peraturan mereka harus terlebih dulu merasakan situasi. Misalnya, ingin jalan raya menjadi lancar, pemerintah harus lebih dulu merasakan parahnya kemacetan (Hal. 55 bagian 1).
Ada juga Iwok Abqary dalam tulisan berjudul “Sumbangan, Oh, Sumbangan”. Apa yang diuraikan Iwok, mungkin saja seringkali kita alami sendiri. Ia mengkritik keberadaan peminta sumbangan yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil dari berbagai yayasan ataupun panitia masjid. Namun apa yang selanjutnya mereka lakukan? Dengan menenteng proposal yang lusut, mereka justru meminta sumbangan dengan nada memaksa. Jika demikian bagaimana mungkin si pemberi bisa ikhlas bila tidak ada kenyamanan? (Hal. 17 bagian 2).
Masih banyak penulis lain yang mengisi buku ini seperti; Prie GS yang membagi tiga watak masyarakat Indonesia, Bre Redana yang menguraikan kekerasan atas nama agama, Fahd Djibran yang menyoal tayangan televisi, Ainun Chomsun yang mengulas surga artis di panggung pilkada, M. Yusran Darmawan dalam tulisan mengenai Partai Komunis Indonesia dan Edhi Prayitno Ige yang mengulas sekolah ideal.
Bagi pembaca yang ingin mengakhiri nasib negara yang jempalitan ini, Buku setebal 177 halaman ini patut dibaca hingga halaman terakhir. Pembaca perlu meresapi ucapan Arswendo Atmowiloto dalam komentarnya atas buku ini. “Selaku-lakunya buku itu yang dibeli. Maka jangan baca komentarnya, lalu merasa sudah membaca isinya.”
Tak perlu berpikir dua kali. Buku ini harus berada di rak buku Anda!


Peresensi: M. Amsar Roedi, Penikmat Buku, tinggal di Demak.
Judul   : Indonesia Jungkir Balik
Penulis  : Adhitya Mulya dkk
Penerbit  : Noura Books, Jakarta
Cetakan  : I, Desember 2012
Tebal   : xiii + 177 Halaman
ISBN   : 978-602-9498-82-0



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Tentang Modem Bolt, Klik Follow pada Gambar Berikut:

Resensi Buku Terbaru
Tags :

Related : Membaca Wajah Asli Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar