resensi terbaru, pengertian resensi, contoh resensi, resensi novel, resensi buku, resensi cerpen, resensi laskar pelangi, arti resensi, resensi film

Kamis, 04 April 2013

Optimis di Tengah Bangsa yang Sinis



Indonesia adalah bangsa yang besar. Ini terbukti dari warisan sejarah yang masih tersisa hingga sekarang, seperti peninggalan Majapahit, Mataram, Sriwijaya dan sebagainya. Kebesaran Indonesia juga terbukti dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Sayangnya, kebesaran Indonesia ini sekarang justru diragukan oleh rakyatnya sendiri. Banyak yang malu, bahkan sinis dengan masa depan Indonesia. Kalau sinisme ini berkembang terus, maka yang impian masa depan akan sirna. Harus ditegakkan optimisme dan impian bahwa Indonesia memiliki masa depan yang cerah sebagaimana pernah dihasilkan para pendahulu.
Membangun impian ini harus dimulai dari kritik diri. Inilah yang dilakukan para budayawan dan aktivis pergerakan dalam buku bertajuk ”Indonesia Jungkirbalik”. Kritik dalam buku ini dimaknai sebagai rasa syukur dengan apa yang sudah diberikan kepada Indonesia. Syukur juga dibarengi dengan mengkritik diri, karena banyak borok dan penyakit yang masih mengganjal masa depan bangsa. Kritik diri ini untuk memulai perubahan, karena dengan kritik manusia akan menemukan persoalan sekaligus solusi. Tak ada putus harapan untuk membangun sebuah impian masa depan.
Indonesia jungkirbalik bukanlah ide untuk mengendurkan semangat meraih masa depan, melainkan mengukuhkan semangat menuju bangsa yang kreatif. Berbagai kreatifitas semakin menunjukkan Indonesia dengan berbagai terobosan yang menggugah etos kesungguhan dan kemandirian. Dengan etos mandiri, Indonesia tidak akan bergantung dengan bangsa asing. Mampu berdiri dengan kaki sendiri, tegak dengan penuh keyakinan, serta tidak gampang diintervensi dengan seenaknya oleh orang lain. Potensi lokal bisa dimanfaatkan dengan sempurna, bahkan bisa ditandingkan dengan properti global. Disinilah Indonesia akan bergerak secara kreatif menjawab tantangan jaman.
Para pendiri bangsa (founding fathers) telah memberikan gerak optimisme dalam menatap masa depan. Di tengah krisis yang paling akut pun, pendiri bangsa Indonesia telah memberikan gerak daya keyakinan untuk selalu berani menjalani segala kemungkinan yang akan terjadi dalam laju kehidupan. Keyakinan dan optimisme yang diwariskan terbaca dalam jejak perjuangan yang bisa kita refleksikan dalam setiap artefak sejarah di sekeliling kita.
Para penulis melihat bahwa Indonesia dilahirkan bukan ruang hampa, atau dari kejanggalan dan ketidakpastian. Indonesia lahir dengan optimisme yang penuh daya. Manusia Indonesia bukanlah sosok yang mandul dan pasif. Manusia Indonesia telah teruji melewati garis penjajahan yang dijalankan secara eksploitatif. Tetapi manusia Indonesia tetap tegar, tidak kendor semangat perjuangan melepaskan diri dari kerangkeng penjajahan. Dan akhirnya para pendiri bangsa Indonesia merayakan sebuah kemenangan dengan gembira dan gagap gempita.
Artinya, sejak awal berdirinya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang berdaya. Mempunyai daya kekuatan untuk menangkal berbagai kekalahan yang diskenariokan penjajah. Bangsa yang berdaya berarti berani melakukan segala hal-ihwal untuk menyelamatkan bangsa seutuhnya. Berdaya dalam menggerakkan gerak kebudayaan dan peradaban. Berdaya dalam mengelola potensi bangsa agar semakin maju dan berkembang serta bermanfaat bagi kesejahteraan warga.
Lihat saja yang dilakukan para sesepuh bangsa. Walaupun kondisi Indonesia sedang terjajah, mereka tetap bergejolak melakukan perubahan semaksimal mungkin. Berbagai organisasi sosial (politik) demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat didirikan dengan penuh bangga. Kaum muda bangsa merangsek di berbagai pos strategis untuk merebut kedaulatan.
Kini, Indonesia terkena imbas krisis karakter dan krisis global. Apapun bentuk imbas dari krisis tersebut, Indonesia harus tetap tegak berdiri dan berdaya. Sangat ironis, kalau bekal menjadi bangsa yang berdaya justru tidak dioperasionalkan dengan baik. Karena dengan menjadi berdaya, bangsa Indonesia dapat memanfaatkan potensi alam dengan sumber daya manusia yang ada di Indonesia.
Buku ini merekomendasikan bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaya mandiri. Pertama, memiliki komitmen kemandirian yang sejati. Kemandirian (independensi) yang sejati merupakan modal dasar bangsa Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain. Dengan kemandirian, bangsa Indonesia bisa berdiri tanpa intervensi dan campur tangan bangsa lain (hlm. 120). Kedua, mengakui dan meningkatkan prestasi warga. Bangsa yang berdaya besar selalu menghargai prestasi yang diraih warganya. Bahkan prestasi warganya selalu ditingkatkan untuk menciptakan tata kemajuan yang berkeadaban. Prestasi warga akan menjadi pijakan tingkat peradaban yang diraih bangsa. Makanya, Indonesia jangan sampai mengkerdilkan prestasi warganya sendiri. Meningkatkan prestasi warga bisa dilakukan dengan memberikan kelonggaran beasiswa melanjutkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Ketiga, saatnya menguasai akses informasi global. Di tengah kompetisi global sekarang, Indonesia harus bersaing dalam memperebutkan akses informasi dalam tataran global. Akses informasi meliputi beragam wahana kehidupan. kalau kita merujuk tesis Alfin Toffler, maka akses informasi menjadi harga mati dalam menggerakkan peradaban suatu bangsa. Tanpa informasi, lanjut Toffler, suatu bangsa akan “ditinggalkan” peradaban modern yang terus melaju kencang. Indonesia harus berpacu keras dalam merebut akses informasi global.
Spirit kemandirian ini sangat digelorakan di masa sekarang. Politisi janganlah menjual melakukan intrik dan harapan yang ilutif. Tetapi lakukanlah sebuah gerak masa depan yang bisa dijalankan bersama dengan mandiri.
*Muhammadun (pembaca buku, sedang bertani di rumah)
Membaca buku  Indonesia Jungkirbalik karya Prie GS dkk (Nourabooks)


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Tentang Modem Bolt, Klik Follow pada Gambar Berikut:

Resensi Buku Terbaru
Tags :

Related : Optimis di Tengah Bangsa yang Sinis

0 komentar:

Posting Komentar