Jejak Perjuangan Anak Pedalaman
Judul: Sepatu Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika),
Terbit: Jakarta Selatan, Cet. III Juni 2012
Tebal: 369 hlm
ISBN: 978-602-9498-24-0
Kisah mengharu-biru anak-anak yang berbalut derita seperti tak pernah habis dikupas. Semakin banyak yang menuliskannya, semakin enak dihayati. Anak-anak di bawah garis kemiskinan yang terlunta meraih sukses menjadi inspirasi luar biasa sekian tulisan dan penelitian. Bahkan, tulisan dalam bentuk imajinasi seperti menjadi realitas. Benar-benar terjadi. Terbukti, di negeri ini ada sekian anak-anak pedalaman, anak-anak orang miskin mampu menjadi figur publik. Mereka mampu menjadi orang-orang berpengaruh, orang hebat yang memiliki peranan penting.
Rekam jejak anak-anak yang berjuang di bawah garis kemiskinan itu terkisahkan dalam buku berjudul Sepatu Dahlan ini. Seperti menjadi hujan salju, kisah yang disajikan dengan mengetengahkan tokoh utama Dahlan sangat menyentuh rasa. Bukan saja karena ulasan dalam cerita ini apik. Kemungkinan, karena ketika pembaca membaca nama Dahlan yang terbayang adalah sosok Dahlan Iskan. Semua tahu, bahwa nama Dahlan Iskan dalam beberapa bulan terakhir ini menyedot perhatian publik di Indonesia.
Gerakan mantan Dirut PLN itu jauh mengharu biru dari kisah Dahlan dalam novel ini. Sepak terjang pak Dahlan mampu meruntuhkan simpati dan empati dalam diri orang yang menyimaknya. Maka, Dahlan dalam cerita novel ini wajar jika mampu menggugah rasa dalam diri setiap pembacanya. Apalagi sudut pandang seorang Dahlan dalam novel ini terasa sangat alamiah. Sangat dekat dengan sebagian besar warga di daerah pedalaman. Sebagian anak-anak di negeri ini yang memiliki segudang mimpi namun hidup di bawah garis kemiskinan.
Dahlan, dalam novel ini diceritakan sebagai sosok anak kampung yang rajin. Rajin sekolah dan membantu kegiatan kedua orang tuanya. Kerajinan Dahlan ini bukan sebatas menggugurkan kewajibannya sebagai anak. Akan tetapi, dia semangat belajar karena memang memiliki mimpi tinggi. Menjadi orang hebat dan akan mengabdi kepada bangsa dan negerinya.
Di ranah kemiskinan, sejak masa kanak-kanak Dahlan biasa hidup sederhana. Penuh penderitaan. Dia memiliki 3 saudara, dengan 2 kakak perempuan dan 1 adik. Ia lulus dari Sekolah Rakyat Bukur dengan harapan bisa melanjutkan di SMP Magetan, sekolah menengah favorit di daerahnya. Tetapi, harapan itu sirna ketika ayah Dahlan yang berwatak tegas melarangnya untuk bersekolah disana. Meski dilarang, tekad Dahlan tidak pernah pupus. Dia kekat, dan tetap minta izin kepada kedua orang tuanya bisa sekolah di SMP Magetan. Sayang, keinginan itu dijawab dengan keinginan Bapak Dahlan yang bernama Iskan memasukkan Dahlan ke salah satu pondok pesantren, pesantren Takeran. Di pesantren inilah Dahlah memulai merancang mimpi dan meraihnya
Mimpi Dahlan luar biasa energik. Dia bermimpi pertama memiliki sepatu. Sepatu untuk dirinya sendiri dan untuk diberikan kepada adiknya. Mimpi selanjutnya adalah memiliki sepeda ontel. Kedua mimpi itu berhasil diraih berkat perjuangannya yang luar biasa.
Kisah dalam novel ini mengajarkan arti kerja keras, tekun belajar dan berdoa. Ketiga komponen ini akan mengantarkan perjuangan ke arah yang diinginkan. Ibarat pepatah, manusia hanya bisa berusaha dan yang menentukan adalah Tuhan.
*Penikmat buku, tinggal di Sumenep


0 komentar:
Posting Komentar