resensi terbaru, pengertian resensi, contoh resensi, resensi novel, resensi buku, resensi cerpen, resensi laskar pelangi, arti resensi, resensi film

Rabu, 12 Juni 2013

Membaca Dinamika Ulama Nusantara


Judul : Ulama & Kekuasaan; Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan, Bandung
Tebal : xii+482 halaman 

Ulama memiliki peran penting dalam sejarah umat Islam. Ulama tampil menjadi pendekar awal dalam suatu kekuasaan sosial-politik yang ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Sampai saat ini, ulama tetap eksis menghadapi pelbagai perubahan fundamental akibat modernisasi kehidupan umat Islam. 

Diskursus tentang ulama di nusantara banyak dikaji oleh beberapa peneliti asing dan juga sarjana muslim. Studi Clifford Geertz (1960) tentang ulama Jawi menyatakan bahwa ulama adalah pialang budaya nusantara. Hirokoshi (1987) meneliti Ulama Sunda hingga menemukan peran akan keberadaan ulama dalam masyarakat kontemporer. Mansurnoor (1980) juga meneliti ulama di Madura dan menemukan peranannya dalam kehidupan keagamaan dan sosial-politik umat Islam.

Berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya, Jajat Burhanuddin dalam buku ini menekankan sejarah sosial dan intelektual yang terabaikan dalam studi-studi tentang ulama Indonesia. Jajat berusaha menelusuri peran ulama masa lalu untuk memberi sebuah penjelasan historis tentang apa yang sekarang muncul sebagai suatu bahasa konseptual tentang ulama kontemporer: revitalisasi dan reformulasi tradisi dalam rangka menyesuaikan dengan pelbagai tuntutan baru modernitas.

Buku hasil desertasi dari universitas Leiden, Belanda ini, hendak memetakan proses historis yang membuat ulama memiliki fondasi intelektual dan sosial yang mapan dalam mempertahankan posisi penting mereka dalam Islam Indonesia.

Menurut Jajat, apa yang sekarang tampak sebagai modal sosial dan kultural lama yang membuat mereka mampu merekonstruksi, mereformulasi, dan memodifikasi tradisi, semua adalah hasil akumulasi dari proses historis yang sangat panjang dalam sejarah Indonesia (halaman 7).

Dalam konteks Indonesia, periode kerajaan Islam nusantara pada masa kolonial menjadi titik episentrum awal mulanya peran ulama di Indonesia. Jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam yang dihempaskan oleh perusahaan Barat seperti Vereenidge Oost-Indischi Campaigne (VOC) dalam jaringan nusantara, menjadi cikal bakal pangagungan posisi ulama dengan menempatkan diri dalam transformasi jabatan. Ulama menjadi pemimpin lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren di Jawa, surau di Minangkabau dan dayah di Aceh.

Para ulama memainkan peran penting sebagai qadhi (hakim) dan syaikhul Islam untuk memperkuat pelaksanaan Islam dalam kerajaan. Dengan tumbuhnya beberapa lembaga ini, ulama memiliki fondasi institusionalnya. Kemudian menjadi ahli tunggal yang berkontribusi dalam praktek-praktek keagamaan (halaman 11).

Satu sisi, munculnya komunitas Jawi di Mekah juga turut intens menguatkan nilai-nilai keislaman di nusantara. Ulama Indonesia yang belajar di Makkah kemudian mentransmisikan Islam ke nusantara. Ulama yang terkenal di komunitas ini antar lain Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani (1813-1897) dan Mahfudz Termas (1868-1919). Dari merekalah lahir ulama-ulama seperti Khalil Bangkalan (w. 1923) dan Hasyim Asy’ari (1871-1947). Sepulangnya dari Mekah, mereka mendirikan institusi-institusi pendidikan dan penyebaran Islam tradisional.

Dalam telaah Jajat, ia menemukan fakta baru bahwa kebijakan kolonial Belanda tentang Islam di Hindia juga berkontribusi besar dalam memperkuat terbentuknya Ulama. Para ulama dikirim ke pelosok-pelosok desa untuk menjadi penghulu. Sembari menjalankan tugasnya, ulama memanfaatkan untuk berkonsilidasi dengan masyarakat dengan membentuk jaringan keulamaan.

Sementara itu, persinggungan ulama dengan dunia modernitas dimulai saat komunitas Jawi yang berada di Mekkah kembali ke Indonesia. Karena itu, perlahan terjadilah persinggungan yang cukup signifikan antara ulama-ulama modern yang telah mengenyam pendidikan di Mekkah dan di Mesir dengan para ulama yang kuat memegang tradisi-salafi di nusantara. Pergolakan transformasi ini telah mengundang beberapa ulama untuk beranjak kepada perubahan.

Organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, menurut Jajat merupakan organisasi keagamaan yang gema untuk mereformasi pemikiran tradisionalis yang dianggap menjadi penghambat kemajuan pemikiran tokoh-tokoh intelektual Indonesia. Muhammadiyah dengan visi dan misinya, keluar dari ajaran tradisionalis.

Pada tahun 1926, berdirilah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan KH Hasyim Asy’ari dengan tekad untuk mewadahi ulama-ulama tradisional, antara lain sebagai respons atas gelombang pembaruan Islam yang disuarakan Muhammadiyah. Jaringan Ulama NU ingin mamadukan pemikiran tradisionalis dan reformis untuk menemukan autentisitas Islam nusantara (halaman 371).

Buku ini sungguh menakjubkan. Kaya dengan analisis. Semua dimensi dan dinamika keulamaan dirangkai dalam format kesejarahan untuk memahami sejarah intelektual muslim nusantara. Paling tidak, buku ini memberi sumbangsih besar ke arah pemahaman baik tentang arkeologi Islam Indonesia. (Wildani Hefni/Wasathon.com)



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Dapatkan Pemberitahuan Terbaru Tentang Modem Bolt, Klik Follow pada Gambar Berikut:

Resensi Buku Terbaru
Tags :

Related : Membaca Dinamika Ulama Nusantara

0 komentar:

Posting Komentar